Jam Pelayanan Senin-Jum'at 08:00 - 15:00 WIB

admin@stieparapi.ac.id

akademik@stieparapi.ac.id

stieapi@gmail.com

0822-2009-9320

Artikel

Dari Pengabdian STIEPAR API di Plupuh, Masyarakat sebagai Laboratorium

15 Feb 2026

Mengampu matakuliah Budaya dan Geografi Kepariwisataan selalu menemukan inspirasi baru. Menggelontorkan beragam teori dan pendekatan kepada mahasiswa jelas kurang tepat sasaran. Semua bisa diakses mahasiswa dengan mudah melalui situs internet.

Bila kemudian disepakati untuk terjun langsung ke masyarakat, itu lebih ditujukan agar para mahasiswa menemukan pengalaman empirik sekaligus bermakna bagi mereka. Segalanya ada di Yogyakarta, dan para mahasiswa harus dibukakan pintu pembelajaran sekaligus pengabdian yang kontekstual. Para mahasiswa diberi ruang untuk memilih lokasi sebagai objek pembelajaran dan pengayaan.

Kelas pun dibagi ke dalam dua kelompok besar sesuai pilihan yang disepakati. Masing-masing kelompok menunjuk ketua yang berasal dari lokasi pengabdian. Asumsinya jelas, ada akses dan kemudahan saat pengorganisasian. Desa Segaran, Kalasan, kuat dari sisi karakter sejarah (makam Kyai Wonosegoro, sendang Wonosegoro dan bebatuan candi). Desa Plupuh, Cangkringan, kuat dari sisi ekologi (bambu dan budaya agraris).

“Kelompok Segaran” berhasil menginisiasi tradisi Ruwahan Ageng Kyai Wonosegoro. Kisah perjalanan seorang tokoh sejarah yang banyak meninggalkan jejak di Segaran, Kedulan, Tamanmartani, Kalasan, Sleman. Baru pertama kali digelar dan akan dijadikan agenda tahunan dengan fasilitasi Dinas Kebudayaan Sleman. Elaborasi dilakukan pada “Kelompok Plupuh”.

Secara berkala sejak awal semester, mendampingi mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat Plupuh. Tugas mereka, mengidentifikasi potensi yang dimiliki masyarakat. Mahasiswa mengeksplorasi secara mendalam asal usul nama Desa Plupuh (bambu gepuk atau disebut galar) dengan wawancara terpandu kepada para tokoh masyarakat. Kadang hadir dalam grup kecil, kalau Minggu semua anggota kelompok terjun sambil ikut gotong-royong. Orientasinya jelas, membuka ruang interaksi agar terbangun kohesi sosial antara mahasiswa (kampus) dan masyarakat (kampung).

Target pertama, saat Ujian Tengah Semester mahasiswa harus mempresentasikan hasil identifikasi, narasi yang diangkat, dan dokumentasi potensi. Presentasi dilakukan di kelas untuk mendiskusikan dan menganalisis skala prioritas yang disodorkan ke masyarakat. Kelompok Plupuh merekomendasikan wisata konservasi bambu Plupuh. Negosiasi dilakukan dengan Kepala Dukuh Plupuh agar mengalokasikan pertemuan dengan warga untuk menyampaikan presentasi hasil rekomendasi.

Setelah presentasi Kelompok Plupuh di hadapan masyarakat, tercapai kesepakatan: Diinisiasi Wisata Konservasi Bambu Plupuh dengan nama Jagad Bambu Nusantara. Skema dan proposal pun disusun sambil membantu masyarakat menata lingkungan dan mempersiapkan destinasi. Tugas berikutnya disepakati bersama, launching Jagad Bambu Nusantara pada saat Ujian Akhir Semester. Dinamika jelas terjadi, tetapi energi masyarakat ternyata semakin menyala. Angan dan impian lama untuk memiliki destinsi bisa mengalahkan segala kendala dan rintangan. Mahasiswa pun terdorong untuk lebih all out.

Kelompok Plupuh difasilitasi dan didampingi untuk membangun jaringan. Kolaborasi terjadi saat pembentukan kepanitiaan. Karang Taruna fokus pada penyiapan sarana prasarana destinasi, mahasiswa fokus pada mobilisasi dana melalui keterlibatan pihak ketiga berikut aspek keadministrasian. Di sisi lain, UMKM ikut bergerak dan potensi kreatif masyarakat terangkat. Sering kuliah harus pindah ke lokasi agar lebih dekat dengan masalah dan alternatif solusinya.

Seleksi alam terjadi. Mana mahasiswa yang lihai berorganisasi dan bermasyarakat, mana yang sekedar hadir sesekali sebagai pengganti presensi. Menjadi tugas kita, para dosen, untuk memberi dan membuka ruang bagi mereka untuk melakukan pengayaan bagi studi dan hidupnya. Selebihnya, bergantung daya nalar dan kreativitas mereka.

Launching destinasi Jagad Bambu Nusantara di Plupuh, Wukirsari, Cangkringan pun terlaksana pada Minggu, 15 Februari 2026. Jajaran VIP dari OPD Kabupaten Sleman hadir. Bupati Sleman menggarisbawahi, Jagad Bambu Nusantara adalah benteng ekologi. Krisis air di depan mata, bencana banjir dan tanah longsor mendera, dan konservasi bambu menjadi komitmen bersama. Ide dan gerakan terdata dan siap dilaksanakan. Setidaknya, para mahasiswa Kelompok Plupuh telah memahatkan prasasti dalam sanubari masyarakat. Wajar jika mereka menangis dan berpelukan begitu acara launching selesai.

Begitulah catatan singkat dosen matakuliah yang akhirnya menjadi dosen pendamping dilanjut fasilitator desa wisata. Masyarakat Plupuh tak mau ditinggalkan meski mahasiswa tak lagi bisa diterjunkan. Kitalah yang menjembatani pengembangan dan pengelolaannya ke depan. Capek? Jelas, karena pembelajaran yang dilanjutkan pemberdayaan memerlukan energi ekstra. Puas? Sangat, adakah kebahagiaan yang lebih sempurna selain saat kebaikan kita diterima dengan hati penuh cinta oleh masyarakat?

Dan bagi mahasiswa, matakuliah Budaya dan Geografi Kepariwisataan yang diikuti tidak saja menjadi payung dan inspirasi bagi matakuliah lainnya, tetapi juga modal berharga untuk proyek MICE dan bahkan tugas akhir. Sekali jalan, dua tiga pulau terlampaui. Kelak, saat lulus dan wisuda, mereka tak hanya senang mengangkat ijazah atau mengenakan toga, tetapi ada karya yang berhasil mereka inisiasi dan tinggalkan di Yogyakarta. Semoga berkah, amin.

Kontak Kami

Jl. Glendongan TB XV / 15 B, Babarsari, Yogyakarta 55281

admin@stieparapi.ac.id

stieapi@gmail.com

pmb@stieparapi.ac.id

(Administrasi) 0822-2009-9320, (Admin PMB) 0822-9993-9003

Sosial Media

© STIE "PARIWISATA API" Yogyakarta. All Rights Reserved.

Hallo!

Silahkan tanyakan pada admin kami untuk mendapatkan segala informasi mengenai STIE "PARIWISATA API" YOGYAKARTA

Hubungi Kami Administrasi Online
0822-2009-9320
Call us to +6282220099320 from 08:00 - 17:00 WIB
Hallo, Apa yang ingin anda tanyakan ke kami?
×
Butuh Informasi? Hubungi Kami Disini